Sabtu, 25 Agustus 2007

(Esai): "KENIKMATAN KREATIVITAS"

Oleh: NAWAL EL SAADAW

Kekuatan kreativitas terkait dengan kenikmatan besar yang mengiringi proses kreativitas itu sendiri dengan tidak mengindahkan dampak dan hasilnya. Ia seperti daya naluri kehidupan. Bahkan ia adalah kekuatan naluri kehidupan itu sendiri. Sesungguhnya kekuatan itu adalah kesadaran tertinggi dalam diri manusia yang diabaikan dan dihukumi dosa, serta dinamakan “ketidak-sadaran”.

Kenikmatan ini dirasakan anak-anak dalam fase awal pertumbuhannya, ketika mereka bermain. Mereka tersentak oleh kenikmatan besar yang meliputi fisik, nalar dan jiwa dalam satu kesatuan entitas universal yang tidak mungkin dipisahkan. Kenikmatan itu melebihi kenikmatan seksual, kenikmatan makan dan kenikmatan tidur. Laki-laki dan perempuan yang kreatif pasti merasakan kenikmatan ini. Sebuah kenikmatan yang membuat siapa saja--laki-laki maupun perempuan--melupakan tidur dan seks demi menghabiskan waktu untuk tenggelam dalam menghasilkan tulisan, lukisan atau karya kreatif lainnya.

Kekuatan besar yang berkuasa ini bisa mengalahkan kenikmatan-kenikmatan duniawi dan kenikmatan ukhrawi lainnya. Kenikmatan ini bahkan bisa mengubah kekalahan menjadi kemenangan, mengubah keputusasaan menjadi harapan, dan mengubah kelemahan menjadi kekuatan.

Kenikmatan ini menyertai proses karya kreatif selama karya itu berlangsung dibuat, dan hilang dengan berakhirnya pembuatan itu. Kenikmatan inilah yang mendorong laki-laki dan perempuan kreatif selalu memulai dan berkarya menciptakan hal yang baru, dan tidak akan berhenti melakukan kreativitas hingga mereka mati. Masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang melebur dalam satu masa, yaitu masa kreativitas. Satu masa yang akan selalu hadir sekarang dan selamanya.

Kalimat “Aku sedang menulis sebuah cerita” akan diucapkan oleh seorang sastrawati dengan sensasi kenikmatan yang lebih besar ketimbang mengatakan “Aku telah menulis sebuah cerita”. Karena kata kerja yang berlaku sekarang adalah suatu kenikmatan dan kreativitas. Sedangkan kata kerja lampau, tidak mengandung arti kreativitas lagi.

Karena alasan inilah, tiap karya kreatif selalu tampak tidak sempurna dan tidak akan pernah selesai. Sesungguhnya, karya kreatif tiada lain adalah isyarat kepada adanya karya kreatif lain yang mengandung unsur kreativitas lebih tinggi.

Jika kita memusatkan perhatian penuh dalam proses pembuatan karya kreatif itu sendiri di sini dan saat ini, maka hal itu akan tampak sebagai sebuah inspirasi besar. Tanpa kita sadari, hal itu menjadi petualangan yang mengasyikkan dalam ketidaktahuan. Bukan produk dari karya-karya, buku-buku, atau lukisan-lukisan yang tampak tidak sempurna dan mandul.
Sesungguhnya kenikmatan kreativitas itu seperti kenikmatan hidup yang sedang mencapai klimaksnya, di sini dan sekarang.

Florida, 13 September 1999

2 komentar:

Esti mengatakan...

Aduh Mas...cerpen ini menggetarkan. Aku masih percaya dengan pernikahan, bukan sebatas formalisme, tapi juga perlindungan dan kasih sayang untuk perempuan dan juga laki laki...merinding aku Mas...

Esti mengatakan...

Ralat Mas, komentar tadi untuk cerpen bumi manusia bukan untuk esai kenikmatan kreativitas. Thanks