Selasa, 21 Agustus 2007

(Refleksi): PERCAYA PADA KEKUATAN CINTA


Oleh: Nurani Soyomukti

Di negeri ini cinta semakin mahal, kebencian semakin murah. Pada hal manusia diciptakan oleh Tuhan untuk saling berpasang-pasangan, untuk saling mengenal satu sama lain, untuk saling memahami, dan untuk menciptakan kehidupan (hubungan sosial) yang lebih baik. Fenomena cinta adalah fenomena yang bisa dilihat ketika hubungan itu menunjukkan tingkat kedamaian, keharmonisan, dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Tapi itu tak terjadi di sini. Cinta adalah misteri jika tanpa kemampuan untuk mengetahui.

Dan maka demikianlah, setelah melangkahkan kaki bersama seorang kekasih, misalnya, kita tidak tahu apakah cinta akan mengatakan pada kita tentang keabadian, suatu aras waktu yang, meskipun bisu, mampu mengatasi ruang dan jarak di mana makna kehidupanpun senantiasa diukur baik dengan jumlah bayangan keindahan, rencana-rencana, dan tindakan cinta. Terus terang, dalam banyak hal seseorang tidak bermaksud bermain-main (play around) terhadap apa yang telah diucapkan tentang kebesaran cinta, misalnya: “Aku cinta padamu”, sebagai komitmen untuk membangun cinta bersama, meskipun ekslusif dan tertutup di luar dua orang yang saling “mencintai”.

Kadang seseorang juga berfikir bahwa ia akan kecewa suatu saat kelak ketika tidak bisa mengabadikan lakon cinta yang telah disepakati bersama kekasihnya secara eksklusif. Tapi dari cerita cinta itu, mereka bisa berharap untuk belajar membuang penyakit narsisme dan egotisme kemanusiaan. Cinta menekan kecenderungan pada pemenuhan individual saja, suatu ruang yang membatasi gerak kasih yang tinggi. Mereka masih mengharap cinta akan mampu membantu menemukan identitas dan otonomi diri, sehingga tindakan yang dilakukan, baik tentang cinta berdua (eksklusif), maupun tentang cinta pada manusia secara universal, adalah kerelaan resiprokal secara sadar. Mereka yang benar-benar memahami cinta, benar-benar berusaha menghindar untuk memanfaatkan perasaan demi tujuan individual itu; dan tesa bahwa cinta adalah persoalan kepentingan individualis harus dibuang. Jadi benar-benar harus menyadari relasi yang dibangun bersama, apapun tindakan yang dilakukan bersama seorang kekasih harus didasari oleh ketahumenahuan (pengetahuan) intersubjektif berdasarkan moral, kebaikan, dan keindahan (beauty) bersama. Manusia memang harus hirau dan, nampaknya, harus berhasil dalam hal ini pada saat hidup benar-benar diterkam oleh berbagai kebutuhan (baik yang asli maupun yang palsu). Cinta harus mengatasinya bersama-sama.

Tapi orang yang punya pemahaman tentang konsep dan praktek cinta serta keindahan tidaklah banyak jumlahnya. Apalagi ada sistem besar dan tradisi-tradisi yang mengkampanyekan bahwa kemanusiaan dan parameter-parameter moral hanya dianggap kontras dengan logika-logika kapital, kekuasaan, dan nafsu semata, sehingga manusia sekarang ini diserang dengan ukuran-ukuran keindahan dan model-model moral baru yang latah dan demi mencapai kepuasan individual-egoistis itu.

Jarang sekali mereka, yang percaya begitu saja pada kata “Cinta”, bertanya: apakah lakon cinta yang kita bangun (baik dengan seorang kekasih, maupun dengan manusia universal) sudah ditegaskan dengan pemujaannya terhadap beauty, melancoly, dan Truth?

Betapa sulit mendatangkan dan memiliki negative capability, yaitu kemampuan untuk selalu berada dalam keadaan ragu, tidak menentu, dan misterius tanpa mengganggu keseimbangan jiwa dan tindakan cinta yang dipercaya dan disetujui bersama. Jika kita peka, hanya fikiran dan hati kitalah yang selalu diliputi keresahan (yang harus dijawab bersama-sama). Tingkat tertinggi dari cinta, sebetulnya, adalah bahwa suatu yang dianggap rendah (oleh orang lain di luar hubungan kasih) dan dianggap tidak memiliki nilai dapat menjadi suatu hal yang berarti. Things base and vile, holding quality/love can transpose to form and dignity.

Demikianlah adanya, kesulitan ini tentu saja akan terus berada dalam lakon kapitalisme seperti sekarang ini. Akibatnya, negative capability seperti itu belum seluruhnya diraih oleh manusia.

Tapi, bagi para pecinta yang serius, pada hakekatnya ia adalah suatu proses; keraguan, ketidakmenentuan; dan misteri amat bersahabat dengan proses. Jadi, persoalannya adalah bagaimana menciptakan sistem sosial, budaya, dan hubungan antar individu yang memungkinkan manusia mengalami pengalaman hidup yang membuat ia berpikir, merasa, dan bertindak berdasarkan kepeduliannya dengan Tuhan, alam, dan manusia lainnya. Proses itu akan membuat kita menjadi kreatif, berperasaan, dan percaya secara terus menerus pada keindahan yang dikandung oleh alam ciptaan yang maha Kuasa. Orang yang tidak punya negative capability tak akan kreatif, karena bagi mereka segala sesuatunya telah jelas, tidak menimbulkan keraguan dan tidak merupakan misteri. Jika memang proses kreatifitas identik dengan struggle for getting beauty, atau lebih tepatnya menciptakan suatu yang “layak” dan “elok” bagi kemanusiaan, maka apa yang telah dan akan kita tempuh sebagai manusia sejati haruslah menjadi nuansa cinta yang berbeda dengan spesies lain (binatang) yang tidak memiliki sense of beauty. Dalam logika kapitalistik, estetika adalah keindahan yang bersahabat dengan dinamika modal dan kepentingan mengumpulkan uang.

Kondisi-kondisi eksistensial manusia yang rindu keindahan sejati tidak begitu gampangnya menerima sesuatu yang tampak begitu saja: manusia kapitalistik yang dangkal dalam memandang materi (bentuk, ukuran, berat, warna, dan ukuran-ukuran materi yang lain) akan menerima apa yang didapat dari daya tangkap inderanya secara instan. Pada dasarnya ia adalah budak dunia, dia objek alam, pesuruh sejarah yang nilainya bagi kemanusiaan sebenarnya sangatlah rendah.

Siapa, di antara kita, yang tak setuju bahwa cinta harus mengandung unsur pembebasan, bukan dominasi atau penindasan. Cinta produktif memiliki elemen-elemen: perlindungan, tanggung jawab, penghormatan dan pengetahuan. Elemen-elemen inilah yang menjauhkan kepentingan sempit, termasuk libidinal and material needs saja dalam logika pertukaran komoditif. Rasa kasih yang didasari penguasaan, pengaturan, dan kepentingan adalah anti-“pengorbanan tulus”. Jika tujuan dan kepentingan tidak terpenuhi akan terjadi physical or pshycological violence dalam hubungan antar manusia yang bertentangan dengan dengan cinta (love) yang tulus (genuine, sincere, thrutful, honest, no pretention), bahkan akan terjadi tindakan yang pragmatis (licik) dan—dalam hubungan yang eksklusif—mudah “pindah ke lain hati”. suatu watak binatang yang meracuni jiwa-jiwa kemanusiaan dan kebaikan.

Sehingga harus dirumuskan kembali kisah kasih kemanusiaan dalam kehidupan kita. Cinta, bagaimanapun, perlu dirumuskan agar bisa dikomunikasikan dengan baik. Jika kita sama-sama sepakat tentang rumusan cinta (dan kehidupan), mungkin kita akan benar-benar mampu membangun cinta yang berbeda dari ketololan yang disusun oleh manusia tolol di muka bumi ini.

Pemikiran cinta sangat perlu, sebab toughtlessness dalam bertindak sama saja dengan kebodohan. Pencarian identitas eksistensial berkaitan dengan pengetahuan. Seorang hanya akan ‘mengenal’ sesuatu sejauh ia ‘mengasihinya’ (res tantum cognoscitur quantum diligitur). ’Mengenal’ di sini pertama-tama bukanlah aktifitas ‘mental pikiran’, karena kalau itu yang terjadi, hasilnya adalah ‘pengetahuan akal’ (‘ilm) dalam wujud dan gagasan di otak semata. Cinta yang hanya di otak, bukan di hati, adalah berbahaya. Mengenal dalam pengertian ”ma’rifa” mengikutsertakan hati nurani, dan hasilnya adalah pengetahuan batin yang akan mendorong kita melakukan tindakan yang bersumber dan bermuara pada pertimbangan-pertimbangan suara hati. Arahnya pasti pada apa saja yang baik dan mulia bagi manusia. Pengertian ‘pamrih’ tidak berlaku – inilah ‘mahaba’ (cinta-kasih) yang pusatnya bukanlah hawa nafsu si ‘ego’, melainkan Sang Hati Nurani. Keadilan menghendaki perasaan manusia yang bisa menjadi hunian bagi cinta yang tidak punya rumah….***

(Gagasan): MERINDUKAN KEPEMIMPINAN ALTERNATIF


Oleh: Nurani Soyomukti


Isu tentang kepemimpinan nasional terus menggelinding terutama mendekati pemilu 2009 serta berbagai momen pergantian kepala pemerintahan di berbagai daerah. Belakangan juga muncul isu tentang dibutuhkannya para pemimpin alternatif. Isu semacam itu sangatlah wajar mengingat hingga saat ini belum ada pemimpin rakyat yang menjawab berbagai macam persoalan yang ada di negeri ini.

Tentu saja masih banyak yang optimis dalam melihat masa depan mengingat sejarah menunjukkan bahwa kelahiran pemimpin selalu diberikan dari rahim sejarahnya sendiri, terutama lahir dari bayi-bayi perlawanan yang terus tumbuh. Saat ini Indonesia memang belum memperlihatkan calon pemimpin yang merakyat, kecuali elitis dan anti-rakyat (bahkan tak percaya potensi kekuatan massa rakyat). Tetapi dari pergulatan sosial-politik yang ada pasti akan muncul generasi pimpinan yang mampu mengungkapkan tuntutan sejarah. Media massa memang belum pernah mau dan mampu menelisik calon-calon pemimpin dari kalangan gerakan rakyat, makanya jarang (hampir tidak ada) tokoh dan pimpinan gerakan yang popular—beda dengan para tokoh penipu, penjilat, pembohong, dan bahkan penjahat yang tubuhnya berlumuran darah yang tiap hari ditampilkan dengan politik pencitraannya. Kita bisa melihat perjalanan tokoh yang kini menjadi “pimpinan” negeri Indonesia (SBY). Tokoh ini semasa mendekati pemilihan umum selalu sering ditampilkan dengan citranya yang “elegan”, “berwibawa”, “tegas”—yang pada akhirnya tetap tegas, sebagaimana para pendahulunya, dalam menyengsarakan rakyatnya, bahkan jauh lebih tegas dalam hal ini.

Seiring dengan kian kejamnya kebijakan neoliberalisme, pergerakan rakyat bawah juga makin massif, dan melatih keberanian, keseriusan, memajukan cara pandang dan strategi-taktik untuk merubah nasib Indonesia, dengan sendirinya akan lahir banyak tokoh dari bawah. Tokoh dan pemimpin semacam inilah yang kelak akan dibutuhkan oleh rakyat. Tokoh yang berani, bahkan dengan sedikit kenekatan gila sebagaimana dilakukan Hugo Chavez pada tahun 1992 yang justru mempercepat kesadaran rakyat hingga pada akhirnya berujung pada kemenangannya yang lebih nyata. Sebelum menang pemilu 1998, pada tahun 1992 Chavez pernah berusaha merebut kekuasaan untuk menerapkan kebijakan anti-neoliberal.

Pimpinan yang dibutuhkan rakyat adalah pimpinan yang mampu menjelaskan kontradiksi dan bukan memutasikan kontradiksi atau mengalihkan perhatian rakyat yang telah bangkit kearah kecacatan cara pandang. Hingga saat ini banyak tokoh yang mencoba mengalihkan perhatian rakyat terhadap situasi yang terjadi di negeri ini sebagai imbas dari imperialisme. Sebagian juga tokoh agama, yang secara umum selalu mengatakan bahwa sumber kesengsaraan rakyat bukanlah neoliberalisme dan watak elit yang mendukungnya (menjadi antek), tetapi karena kurangnya moral dan agama. Maka solusi yang mereka tawarkanpun adalah solusi moral yang dalam banyak hal memasung kebebasan rakyat untuk berpikir maju, bertindak leluasa, dan berjuang secara konkrit dalam gerakan yang bukan hanya bersiaf ekonomis tetapi juga politik.

Dengan memutasikan kontradiksi, kebanyakan elit ini juga berusaha mengambil keuntungan dari kebodohan dan kepsarahan rakyat, juga prasangka dan sentimen kebencian yang bersifat SARA. Memang ada pihak yang sengaja membiarkan terjadinya konflik suku, agama, dan kelompok. Secara nyata mereka mendapatkan keuntungan politik dan finasial, tetapi secara umum penindasan kapitalisme akan langgeng karena rakyat yang seharusnya bergerak melawan penindasan kelas (vertikal), menjadi bergerak dan bertentangan secara horizontal. Elit penipu dan penindas yang seharusnya dilawanpun selamat, karena rakyat justru saling bertarung. Solidaritas kelas pekerja atau rakyat miskin yang seharusnya bersatu melawan elit, justru dipecah belah dan diilusi dengan janji-janji.

Lalu apakah Indonesia mampu melahirkan pimpinan politik seperti Hugo Chavez dan Evo Morales di Amerika Latin? Dalam hal corak masyarakat, Indonesia sangat multikultural atau plural dari segi agama dan suku. Sedangkan Amerika Latin tidak seplural negeri ini. Sehingga perlawanan kelas begitu mudah dialihkan menjadi perlawanan dengan basis gerakan agama dan kesukuan. Hal ini berbeda, misalnya, dengan gerakan Tani Indian di Bolivia yang melawan imperialisme dan memenangkan Evo Morales. Sentimen suku (Indian) melekat dengan sentimen kelas (anti-neoliberal). Ketertindasan suku Indian justru mendukung sentimen kelas.

Logikanya, terlalu mudah bagi kelompok elit untuk memanipulasi kesadaran rakyat, terlalu mudah perlawanan kelas dialihkan menjadi konflik agama—ini yang terjadi di Indonesia . Yang menjanjikan dari Venezuela adalah keberhasilannya menjadi bangsa mandiri, tidak menjadi bangsa kuli seperti Indonesia . Bagaimana tidak menjanjikan jika banyak Negara yang tergiur tentang apa yang terjadi di Venezuela , terutama Negara-negara tentangganya di Amerika Latin dan Amerika Tengah (kawasan Karibia).

Kepemimpinan politik untuk kemandirian bangsa menjadi tren di sana . Memang, tokoh-tokoh politik kiri atau tengah-kiri di berbagai negeri Amerika Latin itu mempunyai kadar yang berbeda-beda dalam sikap mereka terhadap imperialisme AS atau kapitalisme neo-liberal. Dan, tidak semuanya mempunyai sikap yang sama terhadap sosialisme atau komunisme. Tetapi boleh dikatakan bahwa pada umumnya mereka bukanlah orang-orang kanan yang reaksioner atau tokoh-tokoh yang memihak kepentingan Washington, seperti halnya kebanyakan presiden atau diktator-diktator Amerika Latin di masa yang lalu, juga sebagaimana kekuatan dan elit politik di Indonesia pada masa kini. Selain Hugo Chavez di Venezuela, ada Michelle Bachelet di Cili, Lula di Brasilia, Nestor Kirchner di Argantina, Tabaré Vazquez di Uruguay, Lucio Guttierez di Ecuador, Evo Morales di Bolivia, Ollanda Humala di Peru, Andrés Manuel Lopez di Meksiko, dan Daniel Ortega di Nikaragua.

Untuk tidak pesimis, sesungguhnya di negeri kita ini masih ada jalan terang bagi pembebasan rakyat dari ketertindasan. Tentunya harus ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi bagi perjuangan politik rakyat. Sekarang ini tingkat ketidakpuasan rakyat terhadap nasibnya kian membesar karena kehidupan mereka memang kian memburuk akibat kebijakan-kebijakan neoliberalisme, bahkan rakyat kian muak dengan watak elit yang tetap saja korup, aji mumpung, dan mengurusi kepentingannya sendiri (dalam menumpuk kekayaan). Corak perlawanan yang salah juga kian banyak terjadi, misalnya adanya konflik dan kekerasan bernuansa agam dan suku. Tetapi intinya, entah reaksi rakyat benar atau salah (objektif atau subjektif), potensi bagi pembesaran dan kemajuannya tak diragukan lagi.

Sekarang tinggal bagaimana muncul tokoh yang menjadi sang pelopor dan mampu memimpin reaksi massa tersebut. Yang jelas saat ini rakyat butuh penjelasan tentang apa yang terjadi dan tentang bagaimana kemudian cara merubah nasib mereka—setelah tahu apa yang terjadi (tahu bahwa mereka ditindas dan butuh merubah nasibnya). Harus ada sarana untuk memungkinkan rakyat berkumpul dan mendiskusikan persoalan-persoalan itu dan menbicarakan perubahan. Yang lebih penting juga mendorong agar massa rakyat terlibat aktif dalam kegiatan politik semacam itu.

Singkatnya, saat ini rakyat butuh alat politik bagi mereka untuk memperjuangkan nasibnya. Alat politik modern bagi perubahan sosial tentunya adalah organisasi atau wadah tempat berkumpul yang terikat dalam satu tujuan yang maju, yaitu pembebasan diri dari penindasan dan mewujudkan tatanan yang adil. Sekian banyak organisasi perlawanan dan perjuangan rakyat, maka harus didorong semakin banyak pula keterlibatan mereka secara aktif. Organisasi tersebut haruslah maju secara ideologis (anti penindasan dan mencitakan tatanan baru), secara programatik (dengan program-program yang mampu menjawab masalah yang ada), dan strategi-taktik (suatu cara untuk menyusun kekuatan dan mewujudkan tujuan).

Organisasi tersebut bersifat politik. Artinya harus menyatu dalam sebuah wadah yang memiliki kangkauan politik yang luas dan mampu mengintervensi panggung-panggung politik di negeri ini. Alat politik ini juga harus menciptakan panggung-panggung politiknya sendiri agar program dan ide yang disampaikan dapat diterima massa dan menggerakkan atau melibatkan lebih banyak lagi massa yang tergabung.

Alat politik yang efektif menurut saya adalah partai politik yang memiliki syarat-syarat untuk berperan dalam merebut hati massa , bersaing dengan kekuatan-kekuatan lainnya yang selama ini hanya membohongi rakyat. Partai politik ini harus bersifat menyatukan kekuatan-kekuatan sosial politik dari massa rakyat tertindas dan juga membangun aliansi dengan siapa saja yang bisa menguntungkan gerakan rakyat. Apalagi, mendekati momentum pemilu (2009) yang semakin dekat, maka alat politik berupa partai sangat dibutuhkan untuk berinteraksi secara lebih luas dengan kekuatan-kekuatan social yang ada, juga untuk menjadi sarana bagi pendidikan politik rakyat. Dengan tetap bertumpu pada penguatan basis-basis perjuangan rakyat, pemilu 2009 dapat dijadikan momen untuk memenangkan program-program yang maju.***

(Esai): Nyai Ontosoroh, Dari Novel ke Teater untuk Pencerahan Kaum Perempuan

Oleh: Nurani Soyomukti,

Aktif di sastra JARINGAN KEBUDAYAAN RAKYAT (JAKER); Pendiri Yayasan Komunitas Teman Katakata (KOTEKA); Penulis Buku "REVOLUSI BOLIVARIAN: HUGO CHAVEZ DAN POLITIK RADIKAL" (RESIST BOOK, YOGYAKARTA 2007).


Pementasan teater “Nyai Ontosoroh” yang diselenggarakan tiga hari bereturut-turut, tanggal 12, 13, dan 14 Agustus di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta benar-benar patut mendapatkan catatan tersendiri. Bukan hanya karena penontonnya yang membludak hingga tiket telah habis jauh-jauh hari sebelum pertunjukan dimulai, tetapi juga karena yang dipentaskan adalah adaptasi dari karya sastrawan terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Nyai Ontosoroh adalah tokoh Novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer yang menyebabkan sastrawan ini dikenal luas di dunia, hingga ia sempat dicalonkan sebagai orang yang layak memperoleh hadiah Nobel Sastra. Dan pementasan tersebut menarik juga karena keterlibatan beberapa artis-selebritis seperti Heppy Salma (pemeran Nyai Ontosoroh), Rudi Wowor, Ayu Dyah Pasha, dll.

Tak ada yang menolak bahwa aspek sosial yang penting dari karya Pramoedya Ananta Toer adalah munculnya pencerahan dan penyadaran di kalangan masyarakat, terutama kaum perempuan. Bagi saya, pementasan ini adalah sebuah terobosan yang akan membawa dampak besar terutama bagi kaum perempuan yang butuh referensi tentang sosok yang bisa dijadikan contoh, tokoh yang dikisahkan memiliki pandangan maju dan berlawan dalam sejarah bangsa yang diwarnai penindasan dan ketertindasan kaum perempuan.

Nyai Ontosoroh adalah kisah perempuan di jaman kolonial, perempuan yang mengalami kebangkitan dan pencerahan sehingga cara pandang baru teradap diri dan persepsi terhadap realitas mampu mengimbangi realitas baru yang dialami bumi putera sebagai akibat modernisasi kapitalis (kolonial) yang membutuhkan respon kemanusiaan baru. Dikisahkan bahwa jaman Nyai Ontosoroh atau Sanikem hidup adalah ketimpangan akibat penjajahan. “Bumi Manusia” karya Pram adalah sebuah karya yang luar biasa dalam meneliti detail-detail psikologis dan dialektika historis manusia di masa transisi (benih-benih hancurnya tatanan feodalisme kerajaan beserta tatanan ideologisnya dan munculnya perlawanan baru terhadap kapitalisme kolonial yang bercokol).

Pada jaman ini Belanda Totok berkuasa dengan perusahaannya, dengan Gubermennya dan dengan hukum putihnya. Orang putih dan orang pribumi tidak bergaul dan tidak membaur. Hanya sana sini ada satu dua orang yang masuk sekolah orang Belanda. Kecuali ada satu golongan yang pada waktu ini, pada tahun 1898, sangat dekat dengan Belanda dan Eropanya. Ironisnya mereka adalah golongan yang sangat tertindas dan dihina oleh masyarakatnya yaitu perempuan-perempuan yang disebut “gundik” atau “nyai”. Para nyai inilah yang sempat kenal rumah tangga Eropa dari dekat; sempat berbincang-bincang intim dengan “lelakinya”, bisnisnya, temannya, ilmu pengetahuannya dan dunia modernnya.

Memang kisah tentang nyai dalam karya sastra Indonesia bukan pertama kalinya diangkat oleh Pram melalui “Bumi Manusia”. Cerita tentang nyai diangkat juga banyak mewarnai karya sastra di negeri ini, misalnya dalam Cerita Nyai Sarikem (1900), Nyai Isah (1903), Nyai Permana (1912). Cerita Nyai Dasima yang ditulis oleh G. Francis, misalnya, juga merupakan karya sastra yang dikenal. Oleh G. Francis, Dasima digambarkan sebagai perempuan dari Kampung Koeripan menjadi nyai Tuan Edward W., yang sangat dicintai dan dimanjakan layaknya istri yang sah. Namun, Dasima yang cantik menawan ternyata bukan tipe perempuan yang bisa dipercaya. Ia selingkuh dengan Baba Samioen dari Kampung Pedjambon.

Cerita Nyai Dasima tersebut juga memiliki kesamaan dengan cerita Si Tjonat karangan F.D.J. Pangemanann, yang merupakan sastrawan pribumi. Dikisahkan, Saipa, nyai Tuan Opmeijer, asal Desa Tjirenang adalah perempuan cantik dan masih belia. Sebelum menjadi nyai Tuan Opmeijer, Saipa dijual Kaenoen, abahnya, kepada Tjengkao seharga F 40 dan kemudian dijual lagi seharga dua ratus rupiah. Selama menjadi nyai, Saipa sangat dicintai tuannya. Tetapi, Nyai Saipa berbuat serong dengan si Tjonat, jongos di rumahnya. Bahkan, Saipa memilih kabur bersama si Tjonat setelah terlebih dahulu mencuri uang, perhiasan, dan barang tuannya.
Dibanding karya-karya tentang Nyai, Bumi Manusia Pram menggambarkan seorang nyai yang berwibawa karena prinsipnya, yang punya cara pandang maju dan tercerahkan, bukan sekadar nyai yang hanya menjadi objek seksual dan prestise sosial tuan kolonial. Nyai Ontosoroh menghadirkan dirinya tidak lagi sekadar gundik, piaraan, dan pajangan tuannya. Citra “suka selingkuh” yang menjadi watak Nyai terbantahkan oleh diri Nyai Ontosoroh.

Perlawanan Perempuan Pribumi
Nyai Ontosoroh awalnya adalah Sanikem, gadis berumur 14 tahun yang dijual oleh ayahnya sendiri menjadi gundik seorang Belanda. Sanikem adalah perempuan pribumi sederhana yang awalnya tak berdaya untuk menolak menjadi gundik (nyai) seorang Belanda bernama Herman Mellema. Tetapi ia menemukan kebangkitan diri. Kekalahannya dalam bentuk ketakberdayaan menolak untuk menjadi gundik mendorong Nyai Ontosoroh untuk banyak menyerap berbagai arus pemikiran Belanda dan bahkan mengendalikan perusahaan milik Herman.

Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Anellies, diambil paksa dari tangannya. Tetapi bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak: "Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!"
Sanikem adalah gambaran dari gadis-gadis di Bumi Putra yang mewarisi ketertindasan feodalisme (kerajaan), yang bukan saja tidak memiliki pengetahuan karena tidak dapat bersekolah bukan hanya karena berasal dari keluarga miskin, tetapi juga karena kepercayaan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah karena perannya hanya untuk mendampingi suami, melayaninya, melahirkan anak dan merawatnya. Sanikem adalah salah satu gadis jawa yang dilarang berbuat sesuatu seperti laki-laki.

Dan pada umumnya gadis Jawa yang tidak berpengetahuan apa-apa mengahadapi raksasa peradaban Eropa. Jangankan gadis-gadisnya, seluruh tatanan kejawaan yang didominasi laki-laki saja tidak berdaya menghadapi kolonialisme.
Tetapi Sanikem justru menemukan kebangkitan karena pergumulannya dengan tuan Eropanya justru dimanfaatkan untuk belajar mengerti tentang kehidupan, sedikit demi sedikit menjadi banyak pengetahuan yang diserap, memunculkan pencerahan diri yang muncul dalam sebuah sikap dan prinsip. Awalnya adalah pemberontakan batin karena sang Ayah telah menggadaikan dirinya. Ia tak berdaya karena budaya yang jahat, tetapi dari ketidakberdayaan itu ia berjanji untuk meninggalkan kebudayaan yang jahat dan tidak memiliki dasar lagi dalam ilmu pengetahuan san prinsip kemanusiaan baru.

Akhirnya pengalaman pahit si Sanikem alias Nyai Ontosoroh ini ternyata bisa menjadi penggerak orang berdiri tegak dan membangun karakternya dengan mempergunakan pengetahuan yang didapat dari musuhnya untuk membangun dirinya. Dari sinilah kita dapat belajar tentang karakter, character building, pelajaran yang pasti memberi semangat Pramoedya Ananta Toer dari karyanya yang lahir di pulau Buru tetapi juga memberi pelajaran pada kita di zaman sekarang juga.

Bagian lain dari ceritera Nyai Ontosoroh ini adalah ceritera tentang perpolitikan keluarga dan pelajaran Sanikem alias Nyai Ontosoroh di dalamnya. Dengan lelakinya, Herman Mellema, dengan anak perempuannya, si bunga Surabaya, Annelies, dengan putranya yang dendam terhadap semua pribumi, Robert. Kemudian ada “anak angkatnya”, Minke, pribumi Jawa, pelajar HBS yang tertaklukkan oleh Ibu maupun anak gadisnya. Perjuangan dalam keluarga ini mengajar banyak tentang kemunafikan peradaban Barat, sekaligus kekuatan yang datang dari berprinsip.

Sanikem tidak hanya menghadapi perpolitikan rumah tangga keluarga kolonial. Dia pada akhirnya harus menghadapi sistem dan hukum kekuasaan kolonial itu sendiri. Kaum Nyai sepenuhnya tergantung pada perlindungan dari lelakinya. Bagaimana kalau lelaki itu pergi? Atau mati? Atau dibunuh? Apa nasib si Nyai dan keluarganya? Apa kedekatannya dengan peradaban Eropa membantu? Apakah akan cukup untuk membela diri kemampuannya menyuarakan prinsip-prinsip yang dia pelajari dari peradaban Eropa, bahkan kemampuan yang melebihi orang-orang perpanjangan tangan kekuasaan kolonial itu sendiri?

Pada akhirnya seorang Sanikem yang sudah jadi seorang Nyai harus berhadapan langsung dengan tuan-tuan Hakim Belanda untuk membela dirinya dan membela haknya sebagai seorang Ibu. Adalah dari mulut seorang Nyai ini keluar kata-kata yang mengungkapkan kebenaran sesungguhnya. Hikayat Sanikem alias Nyai Ontosoroh, nyai dari pemilik perusahaan susu Surabaya yang tinggal di rumah seram dan menakutkan seolah-olah perempuan sihir, adalah hikayat perlawanan.

Nyai melakukan perlawanan terhadap nasib sebagai gadis yang terjual jadi nyai; terhadap kemunafikan dan kezaliman dalam rumahnya sendiri; terhadap sistem dan hukum kolonial itu sendiri. Buat Nyai melawan itu sendiri adalah prinsip, terpisah dari persoalan akan menang atau tidak. Melawan kezaliman adalah sebuah kehormatan kalau dilakukan secara terhormat. Itupun yang diajarkan pada “anak angkatnya” dan kekasih Annelies, Minke. Minke, adalah seperti Nyai dalam hal kedekatan dengan peradaban Eropa. Dia adalah murid H.B.S., sekolah elit Belanda. Tetapi dia bukan budak belian seperti Nyai. Dia adalah anak orang elit Jawa, tetapi yang sudah mempertanyakan budaya tradisi Jawa. Diapun ditantang untuk melawan kekuatan kolonial dan juga latarbelakangnya sendiri.

Buat Minke ada dua kekuatan baru yang dia harus belajar menggunakan: pena dan kekuatan rakyatnya sendiri. Dia menulis dalam bahasa Belanda dan menulis dalam bahasa rakyatnya untuk membela keluarganya. Dan adalah rakyatnya sendiri—rakyat “Melayu”—memberikan solidaritas, tidak lain dipimpin oleh seorang pendekar Madura, si Darsam.
Itulah yang menyebabkan pementasan “Nyai Ontosoroh” sangat relevan pada saat ini. Ada isu pembangunan watak bangsa yang diajarkan oleh perempuan Sanikem alias Nyai Ontosoroh. Ada isu tentang bagaimana kaum perempuan bersikap dalam menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat, saat tatanan kolonialisme baru masih berjalan. Dan dalam kondisi seperti ini kaum perempuan diharapkan memiliki prinsip dan sikap yang tercerahkan, agar dapat membimbing anak-anak dan teman-temannya, juga kaum laki-laki. Sebagaimana Nyai Ontosoroh mempercepat prinsip perjuangan Minke, sebagaimana Ibunda-nya Gorky juga mendukung dengan keharuan dan keagungan hati pemuda-pemudi yang berjuang membela kaum buruh di pabrik-pabrik kumuh dan merencanaakan gerakan sosial, kaum perempuan dapat memetik pelajaran bahwa bagaimanapun semua orang, laki-laki dan perempuan, harus berpartisipasi dalam perjalanan sejarah. Partisipasi aktif dan berprinsip, bukan pasif dan dikorbankan.***

(Resensi Buku): MEAMBANTAH TESIS 'AKHIR SEJARAH' FUKUYAMA



Ulasan Buku karya Nurani Soyomukti:


Judul Buku:
Revolusi Bolivarian, Hugo Chavez, dan Presiden
Radikal
Penulis:
Nurani Soyomukti
Pengantar:
GUS SOLAH/SALAHUDDIN WAHID
Penerbit: RESIST BOOK, YOGYAKARTA
Cetakan: I, Mei 2007
Tebal: xxii + 212 halaman



Tesis ‘akhir sejarah’ yang dilontarkan Francis Fukuyama pada awal tahun 1990-an kini telah banyak digugat. Dan selama dekade terakhir ini, perkembangan gerakan internasional melawan globalisasi kapitalisme-neoliberalisme nyata-nyata menunjukkan bahwa tesis Fukuyama patut dikubur. Dari Bangkok sampai Barcelona, dari Prague sampai Porto Alegre, dari Seatle sampai Seoul, jutaan rakyat dan kelas pekerja telah menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima globalisasi kapital. Pertumbuhan gerakan populer untuk “globalisasi keadilan” (the globalization of justice) bisa secara tepat menunjukkan tanda-tanda—apa yang disebut Naomi Klein— “akhir dari akhir sejarah” (the end of ‘the end of history’).

Buku yang berjudul “Revolusi Bolivarian: Hugo Chavez dan Presiden Politik” karya Nurani Soyomukti ini menunjukkan suatu bukti tentang benih-benih nyata dari kegagalan kapitalisme di sebuah kawasan Amerika Latin. Beberapa negara telah meninggalkan cara lama (neoliberalisme) dalam menempuh kebijakan ekonomi-politiknya. Penulis memotret secara komprehensif apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh Hugo Chavez di Venezuela yang kini gaungnya semakin kuat dalam kepolitikan global.

Belakangan jejak Venezuela juga diikuti oleh Bolivia yang memenangkan Evo Morales dan Nicaragua yang memenangkan Daniel Ortega yang merupakan tokoh gerakan Sandhinista, sebuah gerakan yang dulunya melakukan gerakan bersenjata. Gerakan Sandhinista, atau tepatnya Frente Sandinista de Liberacion Nacional (FSLN), pernah memenangkan revolusi Nicaragua pada 19 Juli 1979. Di hari itu, mereka melakukan serangan dari berbagai penjuru, memasuki ibukota Managua . Dua hari sebelumnya, diktator Anastasio Somoza Garcia sudah mengundurkan diri dan lari menuju Miami , Amerika Serikat (AS). Tapi, sebelas tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 25 Februari 1990, Sandinista kalah dalam pemilihan umum di Nicaragua . Di bulan November 2006 ini, Daniel Ortega menang pemilu dan dipastikan perubahan menuju sosialisme akan dilakukan.

Penulis begitu elaboratif dalam menunjukkan kebuntuan kapitalisme, potensi bagi adanya sistem alternatif, dan munculnya tatanan lainnya di berbagai negara. Buku ini menggali sosok dan pola kepemimpinan Hugo Chavez. Bagaimana, sang presiden pernah di coba di kudeta olah kelompok "kaum" pemodal. Karena mereka merasa, jika Hugo Chavez memimpin terus dengan ide-ide sosialis maka kehidupan mereka akan terancam. Sepak terjang sang presiden sangat memihak kaum miskin, terbukti banyak perusahaan negara yang dulu di kuasai oleh pihak asing kini di nasionalisasikan. Selain itu, peraturan dan undang-undang yang di jalankan di sana berdasarkan sistem referendum.

Hugo Chavez, memiliki program di televisi nasional (baca: Indonesia semacam TVRI) Hallo President. Dalam acara ini, rakyat bisa menyampaikan pendapatnya "masalah" kepada president, selain itu acara ini juga mengambarkan aktivitas sang president selama satu minggu. Selain itu, untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, maka dibuatlah misi-misi khusus yang bertugas menangani bidang-bidang publik yang bertujuan untuk memfokuskan kerja pada bidang masing-masing. Misalnya: Mission Robinson I, yaitu pemberantasan buta huruf bagi mereka yang terpaksa drop-out karena miskin mampu untuk dijalankan. Program ini adalah program pemerantasan buta huruf pertama kali dalam 102 tahun dan selesai Juni tahun lalu setelah 1.230.000 orang dianjarkan membaca. Dilanjutkan dengan Mission Robinson II mengajarkan 900.000 orang dewasa yang buta huruf hingga tingkat enam (hlm. 108).

Program pembangunan sekolah dan beasiswa bagi anak-anak orang miskin adalah Mission Ribas dan Sucre, program pembangunan pusat-pusat kesehatan di tiap barrio (kampung-kampung kumuh dan miskin) Mission Bario Adentro I, program kredit bagi petani kecil tak bertanah dan bertanah kecil Mission Vuelvan Caras, program pemastian makanan/sembako murah bagi rakyat miskin Mission Mercal, program pembuatan tanda identitas (cedullas) gratis bagi orang-orang yang sudah tinggal di Venezuela 20-30 tahun namun tak memperoleh hak perlindungan sebagai warga negara Mission Identidad, hingga saat ini, menurut informasi yang saya peroleh bahwa Mission Bario Adentro II ditetapkan untuk melanjutkan pembangunan pusat-pusat diagnosa kesehatan guna semakin mengintensifkan misi yang pertama.

Misi Robinson berhasil membebaskan Venezuela dari buta huruf di tahun 2005 lalu (data UNICEF) dan meluluskan 900.000 orang yang drop out sekolah dasar di tahun 2004. Mission Ribas menyekolahkan orang-orang yang drop out SLTA, dan Sucre memberi beasiswa untuk orang miskin masuk ke Perguruan Tinggi. Secara simultan juga membangun 200 Universitas Simon Bolivar di kota-kota. Selama 102 tahun rakyat tak pernah membayangkan program-program sosial ini dapat dinikmati dengan gratis. Mission Science diluncurkan pada bulan Maret 2006 dengan investasi lebih dari 400 juta US $ untuk menciptakan jaringan-jaringan penelitian baru di universitas-universitas Venezuela . Salah satu tujuannya adalah “mendemokratiskan” ilmu pengetahuan, dalam rangka untuk dapat dijangkau sekaligus untuk melayani masyarakat.

Program, kebijakan, dan tindakan Chavez tentunya bukan tanpa hambatan. Sebagaimana digambarkan dalam buku ini, gerakan kontra revolusi berunglangkali dilakukan oleh kaum oposisi. Kudeta yang dilakukan oleh mereka yang merasa dirugikan oleh Chavez bahkan telah berhasil merebut kekuasaan selama 48 jam. Akan tetapi, karena Chavez telah membangun fondasi yang kuat pada gerakan rakyat yang secara mandiri mengorganisir diri dalam lingkaran-lingkaran Bolivarian sebagai basis pertahanan revolusi demokratis, maka perebutan kekuasaan tersebut dapat digagalkan. Chavez hingga kini masih bertahan, bahkan pada bulan Desember 2006 lalu terpilih kembali dengan suara yang lebih besar dari pemilu sebelumnya.

Buku ini memberikan pelajaran terbaik bukan saja dalam hal bagaimana kebijakan alternatif selain kapitalisme dijalankan, tetapi juga bagi mereka yang ingin membangun sebuah gerakan yang berkarakter kerakyatan. Menajalankan kekuasaan rakyat tidak perlu dilakukan dengan gerakan bersenjata seperti banyak dijalankan oleh gerakan Kiri klasik yang ada di Amaerika Latin dan kawasan-kawasn lainnya. Dengan jalur parlementer Chavez ajuga bisa merubah rakyat dan nasibnya, dengan keberanian dan keberpihakan, suatu yang diperolehnya dari interaksinya dengan gerakan rakyat.***

(Esai): MENGUAK IDEOLOGI MILITERISME DALAM FILM INDONESIA

(Dimuat di Harian SURYA, Minggu 19 Agustus 2007)

Menurut Amitabachan, film tidak hanya merupakan gambar hidup yang dipertontonkan semata, namun film merupakan ungkapan emosi dan perasaan, refleksi budaya, dan ekspresi seseorang dalam seni, social, dan politik dengan keunikannya. Yang dapat mempengaruhi perilaku penonton dengan dukungan seting dalam film maupun tempat untuk menonton (Amitabachan, Festival Film India, 2004). Sebagai sosok yang menerjuni dunia perfilman, bintang India yang terkenal ini mengakui bahwa film memang hendak mengarahkan penonton (masyarakat) pada pemahaman tertentu.

Hubungan antara film dan kekuasaan sesungguhnya menjadi perhatian yang serius dari para pemikir dan ahli komunikasi. Menurut Stuart Hall (dalam Eriyanto, 2000), misalnya, mengatakan bahwa film sebagai medium massa pada dasarnya tidak memproduksi melainkan menentukan realitas melalui pemakaian kata-kata yang terpilih; maka tidaklah secara sederhana dapat dianggap sebagai reproduksi dalam bahasa tetapi sebuah pertentangan social, perjuangan dalam mewenangkan wacana.

Di negeri ini, kekuasaan juga telah menggunakan film sebagai media untuk melakukan dominasi dan hegemoni terhadap rakyat banyak, demi kepentingan segelintir orang yang ingin hidup enak sendiri. Di masa pemerintahan rejim militeristik Orde Baru, film digunakan untuk mengkonstruksikan pandangan ideologis warga Negara yang tujuannya adalah mengekang kehidupan berdemokrasi. Nasionalisme semu ditebarkan dengan memperbanyak film-film perjuangan merebut kemerdekaan, tetapi menyembunyikan fakta bahwa pemerintah melakukan tindakan sistematis untuk menciptakan ketertundukan, menumpulkan nalar kritis sebagai landasan kehidupan demokrasi. Kebebasan seniman film di era Orde Baru begitu sempit dan yang ada hanyalah penulis cerita yang didikte oleh perusahaan produser film yang diawasi secara ketat oleh pemerintah.

Film yang berkembang dikontrol secara ketat di bawah kendali pemerintah militeristik dengan memberlakukan penyensoran formal, informasi, dan kepemilikan suatu karya. Pada masa itu, film-film bertemakan sejarah politik yang tampil sebatas pada kisah perlawanan bersenjata terhadap penjajahan sebelum dan sesudah Perang Dunia II di mana dominasi kekerasan fisik lebih ditonjolkan oleh perjuangan tokoh utamanya, seperti Joko Sembung dan Si Pitung. Dominasi militer sangat menonjol dalam film-film yang ditonton secara massif oleh rakyat karena mobilisasi struktur pemerintahan militer waktu itu, misalnya film Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar (1983). Belakangan diketahui bahwa film tentang “Serangan Umum 1 Maret 1949” ini tidak objektif dalam menggambarkan sejarah yang sebenarnya karena terlalu menonjolkan (posisi dan peran) Soeharto dalam merebut ibukota Yogyakarta (sebagai ibukota RI waktu itu); sedangkan peran diplomatis yang sangat menentukan dari Hamengku Buwono IX dinegasikan. Film-film sejarah lain seperti Mereka Kembali (1972) dan Bandung Lautan Api (1975) yang diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dan disponsori oleh Kodam Siliwangi juga bertujuan sama, untuk melanggengkan dominasi militer dalam kebudayaan Indonesia.

Menjelang akhir keruntuhan Orde Baru, film-film Indonesia mengalami kemunduran. Bahkan pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Orde Baru, perfilman Indonesia berada titik yang paling mengerikan. Masyarakat dibombardir dengan produksi film-film ‘panas’ yang mengumbar syahwat.

Maka setelah Soeharto tumbang dan peran militer mulai berkurang, dominasi militer dalam film juga mulai digugat. Film sejarah Gerakan Tiga Puluh September (G 30 S) 1965 yang diproduksi oleh Perusahaan Film Negara (PPFN), yang selama pemerintahan Ode Baru diputar setiap tahun, menjadi kontroversial. Film tersebut bukan hanya menceritakan konteks politik yang terjadi pada awal tahun 1960-an hingga tahun 1966, tetapi juga sangat kentara sekali dalam menonjolkan Soeharto sebagai seorang prajurit yang paling nasionalis setelah mempelopori pembantaian sejuta lebih nyawa rakyat yang dituduh terlibat memberontak terhadap bangsa dan Negara. Ada permainan dan manipulasi nasionalisme dalam film sejarah ini.

Film-film independen yang mencoba menjernihkan manipulasi sejarah Orde Baru pun juga mulai dibuat. Kehadiran film dokumenter “Kado Buat Rakyat Indonesia (KBRI)” yang dipeoduksi oleh Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS), mencoba menarasikan peristiwa mulai tahun 1960-an hingga Orde Baru secara kronologis dan dialektis. Artinya, film ini mengungkap konstelasi politik yang sebenarnya dari peristiwa yang terjadi hingga kekuasaan rakyat disodomi oleh minoritas elit bersenjata dan borjuis kecil Indonesia yang pada perkembangannya mendominasi panggung politik bangsa ini. Sebelum film documenter yang dibuat pada tahun 2003 itu, film “Gerakan Mahasiswa 1998” (Student Movement in Indonesia 1998) yang diproduksi pada tahun 1999 juga ikut memberikan pencerahan bagi rakyat karena film ini juga bercerita dari perspektif gerakan (mahasiswa), sebuah refleksi penting tentang transisi demokrasi di Indonesia antara sebelum dan sesudah Soeharto jatuh dari kursi kepresidenan. Tak mengherankan jika film yang disutradarai oleh Tino Saroengalo ini dinobatkan sebagai film dokumenter terbaik dab mendapatkan Piala Citra FFI (Festival Film Indonesia) 2004. Selain film dokumenter tersebut, FFI 2004 memberikan film-film perjuangan rakyat tertindas dalam memaknai nasionalisme. Nasionalisme kekinian masihlah menjadi spirit perjuangan rakyat bawah, yaitu nasionalisme yang mengakar. Sendal Bolong untuk Hamdani, Marsinah, yang juga dinobatkan sebagai karya terbaik memotret kesusahan hidup dan perlawanan yang dilakukan oleh kaum buruh.***

(Gagasan): MASA DEPAN HUMANISME KITA!

Oleh: Nurani Soyomukti

Dewasa ini umat manusia tengah dilanda apatisme kemanusiaan yang berlebihan. Bagaimana tidak, perjalanan sejarah yang merangkak terus justru semakin tidak memajukan kehidupan manusia, malah dalam banyak hal dan dalam kualitas tertentu mundur jauh. Tenaga produktif yang dihasilkan manusia dapat dikatakan telah maju, tetapi itupun belum mampu mengatasi persoalan yang ada. Bencana alam, perang, kemisikinan demoralisasi kemanusiaan kian merajalela. Salah satu yang paling menyakitkan di dunia ini adalah adanya ketimpangan dan eksploitasi antara sesama manusaia dan eksploitasi terhadap alam yang kian merusak serta mengancam keberlangsungan alam.

Manusia juga bagian dari alam tetapi keberadaannya yang seharusnya mampu mengatasi dan mengisi alam justru tidak dapat berbuat apa-apa. Kekalahan dan ketidakmampuan manusia dalam mengatasi bencana tersebut, tentu saja, menunjukkan bahwa, peradaban kita juga masih belum maju dan beradab. Krisis alam dan krisis kemanusiaan tersebut selalu melahirkan sentimentalitas kemanuasiaan mereka yang kemudian disebut sebagai pemikir dan intelektual. Meskipun demikian, hingga saat belum ada ancangan pikiran dan tindakan yang jelas terhadap keberlangsungan kehidupan yang berjalan akut ini. Ketakutan mengenai terancamnya eksistensi dan keberlanjutan bumi dalam masyarakat pada dasarnya belum disadari oleh manusia.

Otomatis, isu-isu lingkungan hidup tidak pernah mendapat perhatian serius. Bukti bahwa masalah ekologi telah menjadi perhatian dan keprihatinan global adalah terselenggaranya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (Earth Summit) pada 3-14 Juni 1992 di Rio De Jeneiro. Fenomena-fenomena ancaman terhadap lingkungan yang bisa dicatat di sini, antara lain: melebarnya lubang ozon (O3) pada lapisan atmosfer. Pada bulan Maret 1988 datang berita dari NASA bahwa lapisan ozon atmosfer yang melindungi hidup bumi dari sinar ultraviolet yang membahayakan telah mulai menipis di seluruh dunia; pencemaran di berbagai ekosistem (darat, laut, udara) yang diakibatkan oleh industrialisasi yang terjadi di semua negara; peningkatan suhu bumi (global warming) yang bisa mencairkan es di daerah kutub yang bisa menyebabkan air laut akan naik dan daratan akan semakin berkurang; penyakit-penyakit baru bermunculan dengan masalah yang sulit disembuhkan; penyusutan SDA (hutan, minyak bumi, bahan-bahan tambang, dan gas alam); kepunahan jenis-jenis spesies; tersingkirnya masyarakat asli dari lingkungan hidupnya; dan masalah-masalah kehidupan yang lain.

Pemikiran dan deologi sebenarnya sangat penting sebagai landasan yang menggerakkan manusia untuk memperlakukan lingkungannya. Sebenarnya banyak pandangan yang menempatkan alam sebagai kenyataan dunia yang harus dilestarikan. Dalam ajaran kejawen, misalnya, ada ajaran yang mengungkapkan "memayu hayuning buwana", yaitu sikap keharusan memelihara "kecantikan" alam semesta. Ajaran Islam juga demikian, manusia harus memperlakukan alam sebagaimana ciptaan Tuhan yang harus dilestarikan. Akan tetapi ajaran-ajaran seperti itu telah "luntur" karena terjadinya "shock" modernisasi kapitalisme yang dialami masyarakat Jawa dan Islam.

Sistem pemikiran Marxisme sebagai penolakan terhadap kapitalisme punya yang bersahabat terhadap alam. Filsafat Marxis merupakan "suatu filsafat yang sepenuhnya ekologis: manusia diletakkan dalam rahim alam secara utuh, adalah bagian dari alam, sarana yang diciptakan oleh alam demi perkembangan lebih lanjut alam sendiri, demi pemanusiaan terakhir alam... Bagi Marxis, tak ada satupun dalam diri manusia yang menyeruak mengatasi alam, karena tak ada apapun yang bukan alam." Teori Karl Marx muncul karena adanya kenyataan masyarakat kapitalis. Marx mengajukan pemikirannya karena kapialisme telah menjadikan manusia mesin yang digunakan oleh pemilik modal untuk mengakumulasi keuntungan.

Kapitalisme telah memunculkan manusia dan masyarakat teknologis yang implikasinya adalah eksploitasi terhadap sesama manusia dan alam: teknologi diciptakan untuk 'digunakan', dijadikan alat. Optimisme Karya yang menarik adari optimisme kemanusaiaan sebenarnya telah digoreskan oleh para filsuf-filsuf besar di jagat ini. Engels, dalam karya besarnya "The Dialectics of Nature" merupakan wakil dari pemikiran radikal tentang keindahan masa depan alam dan kehidupan kita. Bagi Engels, sebab-sebab munculnya kontradiksi dalam kehidupan ini bersiaft material dan karenanya jawabannya harus mengena pada kontradiksi yang bersifat material tersebut.

Penindasan utama berada pada aras ekonomi. Unsur membabi-buta telah memancangkan dirinya paling kukuh dalam hubungan-hubungan ekonomi, tapi manusia juga sedang mengusir unsur itu keluar dari sana, melalui pengorganisasian keadilan dan kesetaraan di bidang ekonomi. Hal ini memungkinkan untuk merekontruksi secara mendasar kehidupan berkeluarga.

Akhirnya, 'sifat buruk manusia' itu sendiri akan dibuang ke wilayah kesadaran yang paling dalam dan gelap, di paling dasar, di bawah tanah. Apakah bukan sesuatu yang self-evident bahwa upaya-upaya terbesar dalam pemikiran investigatif dan inisiatif kreatif akan menuju ke arah humanitas dan peradaban? Bagi Engels, jika syarat-syarat keadilan mataerial tercukupi, umat manusia tidak akan lagi diharuskan untuk merangkak di depan penaguasa lalim, raja, atau kapital, untuk sekedar menyerah dengan pasrah di hadapan hukum-hukum gelap hereditas dan seleksi seksual yang membabi-buta.

Manusia yang terberdayakan akan butuh untuk mendapatkan satu kesetimbangan yang lebih tinggi dalam kerja-kerja organ tubuhnya dan satu perkembangan dan keausan yang lebih seimbang atas urat tubuhnya, supaya dapat mereduksi ketakutan akan kematian menjadi sekedar reaksi alami dari satu organisme terhadap satu bahaya. Tidak ada keraguan bahwa ketidakharmonisan yang ekstrim dari fisiologi dan anatomi manusia, yaitu ketidakseimbangan yang ekstrim antara pertumbuhan dan keausan urat tubuh, memberi satu naluri dalam bentuk ketakutan yang menekan, gelap dan histeris, yang memenjarakan akal dan yang merupakan bahan bakar bagi khayalan-khayalan memalukan dan bodoh mengenai kehidupan setelah kematian.

Masa depan peradaban yang indah tersebut memang tidak akan datang dengan sendirinya terwujud. Manusia sebagai makhluk yang paling memiliki kapasitas untuk memberikan tenaga produktifnya bagi perubahan ke depan. Pemikiran yang maju (progresif), tindakan yang strategis, dan tekad akan menentukan sekali bagi masa depan kemanusiaan kita!***

(Gagasan): NURMAHMUDI ISMAIL MEMBAKAR BUKU, HUGO CHAVEZ MEMBAGI-BAGI SEJUTA BUKU SASTRA!!!

Oleh: Nurani Soyomukti

Sungguh menyedihkan membaca berita tentang seorang Walikota, pimpinan masyarakat perkotaan, berada di depan mempelopori penghancuran terhadap peradaban buku. Adalah Nurmahmudi Ismail, walikota depok, berada di paling depan aksi pembakaran buku-buku sejarah. Secara simbolis pemusnahan buku dengan cara dibakar tersebut dilakukan Nuramahmudi bersama Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda (Koran Tempo, 21/7.2007).

Yang ada dalam pikiran saya saat baca berita itu: Oh, kenapa masih ada saja pemimpin rakyat yang memundurkan kebudayaan dan peradaban bangsa, berada di depan untuk menghambat dan menghancurkan budaya ilmiah dan kebebasan berimajinasi dan berekspresi rakyatnya. Saya bertanya, adakah pemimpin-pemimpin di negeri terdahulu juga melakukan hal yang sama? Presiden-presiden Indonesia saja banyak yang menghargai buku, karya ilmiah, dan karya kesusatraan—kecuali presiden Fasis Soaeharto!

Karena saya telah melakukan penelitian tentang pribadi pemimpin besar bernama Hugo Chavez, presiden Venezuela , yang juga saya publikasikan dalam buku saya "Revolusi Bolivarian: Hugao Chavez dan Politik Radikal", maka saya mulai tertarik menyelidiki hubungan presiden radikal itu dengan Buku.

Ternyata personality politic Chavez sungguh luar biasa, iaa adalah pengagum buku. Saya banyangkan, Nurmahmudi Ismail yang walikota saja secara jahat memusuhi kebebasan buku-buku mewarnai peradaban Indonesia, bagaimana kalau saja ia menjadi Presiden seperti Chavez, Gus Dura, Soekarno, Megawati, atau lain-lainnya?

Karena kecintaan akan buku dan sastra itu, Chavez memperbanyak dicetaknya karya-karya sastrawan Amerika Latin, ia membagi-bagikan secara gratis satu juta naskah buku sastra (novel) Don Quixote yang dirayakan ulang tahunnya yang ke-400 di seluruh dunia pada tahun 2005. Don Quixote de la Mancha (bahasa Sepanyol: Don Quijote) adalah sebuah novel karya Miguel de Cervantes Saavedra yang dianggap secara meluas sebagai karya bahasa Spanyol yang terbaik di dunia dan kini merupakan lambang karya kesusasteraan Spanyol. Diterbitkan pada tahun 1605, ia adalah salah satu novel paling awal dalam bahasa Eropa modern. Chavez membagikan sejuta naskah karya sastra tersebut dalam rangka merayakan kemenangan program melek huruf yang keberhasilannya dipuji oleh UNICEF.

Chavez nampaknya mirip Bung Karno dalam hal tertentu. Keduanya adalah presiden yang membangun bangsanya dengan prinsip kedaulatan, anti penjajahan global, anti-imperialisme. Terpilih dua kali (pemilu 1998 dan 2006) dengan suara yang meningkat dan dukungan semakin kuat dari rakyatnya, Hugo Chavez presiden Venezuela memberikan demokrasi dan kesejahteraan berbasiskan pada demokrasi partisipatoris: bukan demokrasi komunis-diktator yang memasung kebebasan berekspresi, juga bukan demkrasi liberal-borjuis yang mengagung-agungkan kebebasan tetapi hanya kosong dengan formalitas dan proseduralitas demokrasi pemilu lima tahun sekali.

Demokrasi partisipatoris (participatory democracy) telah membuat rakyat berpartisipasi aktif terlibat dalam pengambilan kebijakan, mengontrol dan bahkan mengeksekusi sendiri program-program kerakyatan. Chavez dan rakyatnya mengakses kesehatan dan pendiikan gratis. Chavez berhasil membebaskan Venezuela dari buta huruf di tahun 2005 lalu (data UNICEF) dan meluluskan 900.000 orang yang drop out sekolah dasar di tahun 2004. Mission Ribas menyekolahkan orang-orang yang drop out SLTA, dan Mission Sucre memberi beasiswa untuk orang miskin masuk ke Perguruan Tinggi. Secara simultan juga membangun 200 Universitas Simon Bolivar di kota-kota. Selama 102 tahun rakyat tak pernah membayangkan program-program sosial ini dapat dinikmati dengan gratis (Soyomukti, 2007: 134).

Komunitas-komunitas baca-tulis dijumpai di berbagai tempat, karya Gabrielle Garcia Marquez, Pablo Neruda, Giconda Belli, Marti, dan para sastrawan Amerika Latin dapat diakses oleh rakyat. Untuk melawan media-media kaum oposisi (borjuis) yang menguasai 90% media, pendukung Chavez membangun dan memperluas media komunitas sehingga peradaban baca-tulis dan kesusatraan dapat meluas ke masyarakat banyak. Banyak yang keheranan, ketika semua media (TV, radio, surat kabar) terus saja menyerang Chavez, tokoh ini bukannya kekurangan legitimasi tetapi malah semakin didukung rakyat.

Meskipun berlatarbelakang seorang tentara, humanisme dan jiwa kerakyatan Chavez bertolak belakang dengan para pemimpin lain yang berlatar belakang tentara (semacam Soharto atau Susilo di Indonesia). Sejarah telah membentuk Chavez, sang Hugo (Manusia Besar), menjadi manusia yang cerdas, berkarakter kerakyatan, dan memiliki sensitivitas tinggi. Salah satu yang menonjol adalah karena Chavez membaca, menyukai buku-buku, dan keranjingan sastra.

Ketika menerima pendidikan militer ia tak hanya membaca literatur Clausewitz, Bolivar, Paez, Napoleon, dan Anibal. Dia juga mengunyah karya Mao dan darinya ia mengobsesikan sebuah peran kerakyaan. Ucapan Mao yang sering ia kutip adalah: "Rakyat bagi tentara adalah ibarat air bagi ikan".

Dari situ, sesungguhnya Chavez sejak awal telah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang kemudian hari menentukan pandangannya sebagai seorang tentara. Visi militer-sipil yang ada padanya akan mengarahkan dia untuk membangun hubungan kuat antara militer dengan rakyat miskin. Ada buku lainnya yang juga berpengaruh dalam hal itu. Di antaranya adalah buku yang ditulis oleh Claus Heller, berjudul "Tentara Sebagai Agen Perubahan Sosial" (El ejercito como agente de cambio social). Tentu saja buku-buku lainnya.

Selain buku-buku kemiliteran dan strategi-perang, ia juga membaca banyak hal dan Chavez adalah orang yang suka membaca—sebagaimana para pemimpin-pemimpin besar lainnya yang muncul di jagat ini. Buku " Venezuela : Sebuah Demokrasi yang Sakit" (Venezuela: Una democracia enferma) yang ditulis oleh seorang anggota Partai Aksi Demokratik (AD) juga mempengaruhi cara berpikirnya. Buku itu mendefinisikan demokrasi dengan baik, sebagai sebuah sistem pemerintahan rakyat; siapakah rakyat, hak asasi, dan hak-hak rakyat.

Kecintaan Chavez pada buku dan minatnya untuk mendidik rakyatnya dengan buku-buku dan karya sastra tidak berhenti hingga ia menjadi orang nomer satu di negeri yang kaya minyak itu. Setiap kali ia mengutip puisi-puisi Pablo Neruda (penyair asal Chili) dan dia tetap keranjingan dengan kata-kata indah. Dalam setiap pidato dan tulisannya kata-kata pilihan selalu dikutipnya. Tak mengherankan, karena obsesinya pada kebudayaan literer ini, ia menutup ijin sebuah stasiun TV swasta (RCTV). TV yang bukan hanya menjadi alat propaganda menyerang dirinya dan terlibat dalam kudeta April 2002 untuk menggagalkan program-program kerakyatan, tetapi juga TV yang dikenal paling banyak menayangkan telenovela (opera sabun) dan dekadensi gaya hidup borjuis yang tidak mendidik rakyat, yang membuat rakyat hanya terilusi dengan gaya hidup yang tak bisa diraihnya, iming-iming konglomerat negeri itu, segelintir orang yang pernah (dan masih akan) memusuhi dirinya.

Negeri ini nampaknya tak lagi beruntung karena pemimpin (presidennya) kurang menghargai imajinasi dan ekspresi literer rakyatnya. Bahkan kita juga miskin pemimpin yang menyukai karya sastra, peradaban buku, habitus baca-tulis, dan pembudayaan bangsa melalui budaya membaca dan menulis. Saya tidak tahu bagaimana pengaruh sastra terhadap presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan atau wakilnya Jusuf Kalla (JK).

Tetapi mungkin kita masih (pernah) punya Gus Dur, seorang yang, menurut saya, sangat menyokong imajinasi manusia-manusia Indonesia dengan menghargai kebebasan berpikir, mendukung budaya baca-tulis. Bahkan dalam hal ini pribadi Gus Dur sangat menarik (unik) karena ia sendiri juga penikmat dan penulis sastra, pengarang buku, dan juga pandai mengulas karya sastra dan karya intelektual. Tak heran jika hal itu juga berpengaruh pada wataknya yang pluralis, mencintai kedaulatan bangsa, progresif, dan tidak hitam-putih dalam melihat persoalan.

Kita, selain Gus Dur, juga pernah mempunyai Soekarno, presiden pertama Republik yang banyak membaca karya-karya pemikir dan sastrawan besar. Soekarno juga seorang perenung, pengarang dan pencipta, menulis dan melukis. Tak heran jika kemudian ia menjadi tokoh besar yang dikenang oleh rakyat dan masyarakat dunia. Jatuhnya beliau juga sekaligus menandai matinya peradaban literer bangsa ini karena pemberangusan terhadap karya secara intensif dikonsolidasikan melalui gerakan militeristik yang memperalat negara di era Orde Baru.***